Saturday, August 10

..sendiri namun tidak sendiri..

Untuk sebagian banyak orang, hari kelahiran atau ulang tahun harus dirayakan besar-besaran. Untuk gue pribadi, gue kurang begitu suka merayakannya dengan pesta pora. Kalau pun gue 'harus' merayakan ulang tahun, paling hanya makan-makan bersama teman dekat dari beberapa grup yang gue gabungkan tapi satu sama lain saling mengenal. Gue kurang suka acara besar-besaran dengan banyak orang tapi obrolannya tidak bermutu dan malah buat grup sendiri. Tapi semakin lama, semakin gue lebih senang memisahkan diri dari keriaan saat ulang tahun, meluangkan waktu untuk diri sendiri. 

Pemandangan di perjalanan menuju Citalahab
Itu pula yang gue lakukan ketika gue ulang tahun minggu lalu. Gue melipir ke Citalahab, tempat yang terletak di kaki Gunung Halimun, Sukabumi. Pedesaan yang sangat sederhana, tapi suasana kekeluargaannya sangat terasa di detik pertama gue menjejakkan kaki di sini.

Perkebunan Teh
Berbekal ingatan gue yang seadanya ini, gue pergi menuju Citalahab sekitar jam 8 pagi dari Jakarta supaya tidak terkena macet di Pasar Sukabumi. Sekitar jam 12 gue sampai di kantor TNGHS dan 30 menit kemudian gue dijemput oleh pak Sarmin. Setelah mengurus administrasi dengan kantor TNGHS karena gue akan menginapkan mobil selama semalam di sana, gue pun pergi menuju Citalahab dengan membonceng motor pak Sarmin. Awalnya jalanan masih beraspal tapi sejak menit ke-30 sampai menit ke-90, jalanan sangat berbatu dan membuat gue yang duduk di belakang cukup kerepotan karena selain ransel di punggung, gue juga membawa sedikit oleh-oleh untuk keluarga pak ustadz yang bersedia menampung gue untuk semalam. Selama ini, gue kan selalu naik truk ke sananya, jadi tidak begitu merasakan goncangan. Kami sampai berhenti dua kali saking pegelnya duduk di motor dan dalam hati, gue sampe ngebatin, kapan nyampenya, hahahaa... Pas sampe, gak ada tempat lain yang mau gue tuju selain rumah pak ustadz dan ngelurusin kaki. Asli pegeeeellll......

Jalanan berbatu ini masih termasuk kategori yang bagus :)
Setelah berbicara sebentar melepas penat sama pak Ustadz dan bu Ratih, gue putuskan untuk tidur barang 30 menit karena jujur, semalam sebelum pergi itu gue baru tidur jam 1 karena harus menyelesaikan terjemahan dulu. Sekitar jam 4 sore, gue maen ke Rumah Ilmu Rimba Halimun yang sehari-harinya juga digunakan sebagai madrasah oleh pak Ustadz dan bu Wulan. Ketemu beberapa anak dan untungnya gue membawa kertas dan buku origami. Jadi, selama 1,5 jam, gue mengajari adik-adik 4 bentuk origami yaitu baju, celana, meja dan kursi. 

 Lucunya, ketika mereka diajarin, gue selalu bilang, "kayak gini..." setiap habis membuat lipatan. Naaah, ni adik-adik kan ikutin lipatan gue dan setiap selesai, mereka selalu mau nunjukin apakah lipatannya sudah benar dan ketika mereka nunjukin lipatannya, mereka bilang, "bu, gini bu?". Tapi, saking cepetnya mereka ngucap, akhirnya yang terdengar, "bugini... bugini..." Lah gue ganti nama jadinya! Wakakaakkk...

Lagi sibuk membuat lipatan

Ini hasilnya

Tiga sekawan asik maen bekel di lapangan

Karena jam sudah menunjukkan pukul 5.30, itu adik-adik gue suruh pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan buka. Cukup susah nyuruh mereka pulang karena mereka maunya ama gue terus. Akhirnya gue memutuskan untuk melipir duluan ke rumah pak Ustadz biar mereka pulang juga. Sewaktu adzan tiba, gue berbuka dulu dengan air putih dan pergi ke musholla untuk Maghrib berjamaah. Nah pas keluar dari musholla, nemuin ada lima anak cewek (Elsa, Mia, Nur, Sri, Annisa dan Ella) yang tadi maen origami ama gue sedang menikmati santapan buka puasa ramai-ramai di saung. Mereka bilang kalau mereka selalu buka bersama di saung dengan membawa masakan rumah masing-masing, dan saling bertukar menu kalau ada temannya yang pengen. Mantaappp.... Buka puasa di rumah pak Ustadz sendiri sangat sederhana tapi nikmat. Menunya hanya oncom pake leunca dan sarden yang gue bawa dari Jakarta. Pak Ustadz, bu Ratih, ketiga anaknya sangat menikmati hidangan yang dimasak bu Ratih. Jujur, itu adalah pertama kali dalam hidup gue makan oncom dan leunca. Setiap kali ibu gue masak, gue pasti gak pernah mau karena gue selalu teringat bentuk asli oncom yang berwarna jingga seperti kebanyakan jamur. Tapi kali ini, untuk menghormati tuan rumah yang sudah membuatnya, mau tidak mau gue pun harus memakannya. Ternyata enak! Lain waktu kalau ibu gue masak, gue pasti akan makan! Hehehee...

Kelar makan, lagi asik-asiknya ngobrol ama pak Ustadz, eh kelima cewek tadi dateng ke rumah dan ngajakin gue tarawih. Lucu banget deh mereka, sangat bersemangat untuk shalat ama gue. Tapi berhubung masih kepagian, secara pak ustadz yang bakal jadi imam shalat aja masih di rumah, gue bilang ama mereka untuk jemput gue lagi kalo sudah mau mulai. Ada-ada aja.... 

Ada satu cerita dari bu Ratih dan pak Ustadz yang membuat gue mau nangis. Jadi dalam 2 bulan ini, panen teh tidak begitu bagus karena teh sedang terkena hama. Bulan Juni lalu, bu Ratih yang bekerja sebagai pemetih teh hanya membawa pulang gajinya sebesar Rp 21.000,- Iya, dua puluh satu ribu rupiah saja, saudara-saudara! Pak Ustadznya sendiri digaji sebesar 400ribu/bulan oleh pabrik teh. Dia tidak bekerja sebagai buruh pemetik teh, tapi sebagai penjaga lingkungan pedesaan. Namun demikian, mereka tetap bersyukur. Mereka bersyukur karena mereka masih bisa makan, punya rumah sebagai tempat berlindung, masih punya pekerjaan. Pak Ustadz bilang, kalau kita selalu melihat ke atas, kita sebagai manusia tidak akan pernah ada puasnya. Kita harus sering-sering lihat ke bawah supaya kita bisa bersyukur betapa nikmatnya hidup yang kita miliki saat ini. *jleb*

Sebelum Isya, gue sempatkan untuk mampir di rumah pak Oji, sekalian nengok bayi bu Oji yang berusia 6 bulan. Senang banget bisa bertemu mereka lagi. Ngobrol-ngobrol sebentar lalu gue pun kembali ke rumah pak ustadz untuk siap-siap pergi ke mushola untuk shalat Isya dan tarawih 23 rakaat di musholla. Yang mengesankan, pas bubaran shalat, selesai salam-salaman, ada cemilan yang dibagi-bagikan ke jamaah. Malam itu, ada bakwan, pisgor dan bolu kukus. Ada 1 anak perempuan yang dateng ke gue terus langsung nawarin bolu kukusnya. *terharu* Menurut bu Ratih, setiap malam, setelah selesai shalat tarawih, selalu ada cemilan yang dibagikan ke para jamaah. Kalau di mesjid-mesjid pada umumnya kan cemilan diberikan pada saat berbuka, nah kalau di Citalahab ini, diberikannya pas habis tarawih. Kelar tarawih, langsung pulang ke rumah dan ngobrol-ngobrol sama bu Ratih sebelum tidur, sementara pak ustadz itikaf di mushola. 

Sri udah tidur duluan
 Ada yang lucu lagi nih. Pas habis shalat, ada 1 anak yang ngikut mau tidur ama gue, si Sri, anaknya pak Oji. Asli buat gue terharu (lagi!). Sebelum tidur, gue sempatkan untuk ke luar rumah dan melihat langit. Wooowww, bintangnya banyak! Sesuatu yang sulit sekali didapatkan di langit Jakarta.

Keesokannya, kami sahur pukul 4 pagi dengan menu yang sama seperti waktu berbuka. Ada tambahan 1 menu, mi goreng. Selesai sahur, istirahat lagi sampai jam 6. Sebenarnya malaaaas sekali mau mandi, karena airnya dingiiiinn. Tapi berhubung kemarin sore sudah tidak mandi, jadi mau tidak mau memaksakan diri untuk mandi. Tidak mau membuang waktu, selesai mandi, langsung keluar dan berkeliling desa. Ternyata, jam 6.30 sudah ramai! Para orangtua yang bekerja sebagai pemetik teh sudah bersiap untuk pergi ke kebun, anak-anak laki sudah bermain bola di lapangan dan tempat penitipan anak sudah ramai dengan anak-anak kecil. Gak berapa lama ada Elsa, Sri dan Mia yang mengajak gue main ke lapangan. Mereka ngajak gue main bekel, tapi karena gue udah lama banget gak maen bekel, jadinya gue hanya sebagai penonton yang baik. Kelar maen bekel, mereka lari-larian dan diakhiri dengan maen gunungan. 

Bukunya tak tersusun rapi tanda dibaca :)

Rumah Ilmu Lebah Rimba Halimun
Pelajaran yang diberikan pak ustad

Selamat pagi!
Lapangan desa serbaguna
Ibu-ibu di tempat penitipan anak
Berhubung sudah mau jam 8, gue pun siap-siap untuk pulang. Gue sempatkan foto bersama adik-adik dulu di depan Rumah Ilmu, lalu pamit kepada pak Ustadz dan bu Ratih yang sudah mau gue repotin dan berbaik hati menampung gue. Gue juga pamitan ke ibu-ibu di tempat penitipan anak dan mereka minta gue untuk datang lagi secepatnya. Kelar berpamitan, gue pulang diantar Ipul naik motor ke kantor TNGHS dan kembali ke Jakarta.

Sungguh sebenarnya kurang sekali waktu yang gue habiskan di Citalahab, tapi walau singkat, sungguh bermakna. Banyak sekali pelajaran tentang kehidupan yang gue dapat dari kesederhanaan warga Citalahab. Mereka pastinya tidak tahu kalau kemarin itu gue berulang tahun, tapi berada di sana, di antara mereka, benar-benar suatu hadiah yang sungguh luar biasa. 

Bersama Mia, Sri dan Elsa :)

Mereka masih pakai kaos CTB


Share/Bookmark

Thursday, July 25

...awal mula..


Banyak sekali yang bertanya sama gue, gimana caranya untuk jadi penerjemah karena tampaknya meng
asyikkan sekali jadi seperti gue ini. Menurut mereka, pekerjaan ini bisa membuat gue bebas, liburan kapan saja, banyak uang, dan hal bagus lainnya. Karena alasan-alasan itulah, makanya gue menulis artikel ini supaya kalo ada yang nanya-nanya, lebih baik gue kasih tautan ini supaya bisa dibaca dengan cermat (dan berulang kali!).

Awal mula gue tertarik untuk menjadi penerjemah itu tahun 2005, ketika gue membaca satu artikel di Kompas hari Minggu tentang seorang ibu beranak 2 yang harus beralih profesi menjadi penerjemah karena ia terkena PHK dari kantornya saat badai krismon 1997 melanda. Gue sangat tertarik dan terinspirasi sama ibu itu karena dia bisa kerja di rumah. Gue memang gak pernah berambisi untuk jadi wanita karir. Buat gue, kerja itu yang penting dapet gaji, bisa nabung dan senang-senang. Dan sejak dulu, gue selalu bermimpi untuk  kerja dari rumah, bisa mengatur waktu sendiri. Makanya, setelah selesai membaca artikel itu, gue langsung b bertekad dan pasang target, kalo suatu saat nanti, gue harus jadi penerjemah seperti dia supaya bisa kerja di rumah.

Sejak saat itu, gue sibuk cari-cari informasi untuk kursus penerjemah. Kakak gue bilang kalo temannya ada yang kursus penerjemah hukum di gedung WTC. Gue pun dikasih nomor telepon dan pas gue hubungi untuk tanya-tanya harga, jeng jeeeenggg, harganya ampe jutaan! Wah, mana mampu gue! Saat itu gaji gue masih di bawah 10 juta dengan kebutuhan yang segabrek. Jadi, lupakanlah tempat kursus itu. Sayangnya saat itu gue belum dengar ada yang namanya LIB Atmajaya atau LIB UI, jadi gue gak tahu kalo mereka juga ngadain kursus penerjemahan. Akhirnya gue browsing dan nemu ada tempat kursus di PPFIB UI Salemba. Saat itu, gue langsung cari informasi kapan kursusnya dimulai. Gue kirim surel ke mereka, dan sekitar 1-2 minggu (iya, mereka emang lambat banget bales emailnya), mereka kasih informasi mengenai kelas penerjemahan yang tersedia. Singkat cerita, di paruh akhir tahun 2006 gue ikut kelas penerjemahan Indonesia - Inggris dengan jadwal 2x seminggu, sekelas sama orang-orang yang memang sudah berkutat di bidang penerjemahan cukup lama (dan beberapa masih komunikasi walo via fb), sementara gue gak tahu apa-apa, NOL! Iya sih, gue beberapa kali nerjemahin dokumen kabel diplomatik, jadi juru bahasa pelatihan karyawan, hal-hal yang bisa dijadikan modal (dan dimasukkan ke CV), tapi kalau dibandingkan teman-teman sekelas gue itu, ya belum ada apa-apanya lah.

Di akhir kelas, salah satu guru memberitahu bahwa ada mailing list khusus penerjemah, namanya Bahtera. Ibu guru tersebut memberitahu alamat milisnya, dan gerak cepat, gue langsung ngirim imel kosong untuk berlangganan milis ini di keesokan harinya. Moderator milis ini sangat sigap. Gue langsung dikirim imel balasan untuk ngisi data diri dan gak sampe sehari, gue sudah jadi anggota milis Bahtera. Saat itu, lalu lintas milis Bahtera belum seramai sekarang, anggotanya pun masih tidak begitu banyak walau sudah menembus angka 1,000. Milis ini benar-benar sangat berguna untuk mereka yang ingin atau sudah berkecimpung di industri penerjemahan. Kenapa? Karena banyak sekali ilmu yang didapat di sini (selain banyak iklan lowongan kerjanya). Ilmu mulai dari padanan kata baik bahasa Inggris ataupun Indonesia, CAT tools (ini bukan mesin penerjemah, tapi aplikasi/software yang dirancang khusus untuk memfasilitasi proses penerjemahan), tarif penerjemah (ini penting banget!), dan segala macam ilmu lainnya yang benar-benar berguna.

Pada masa itu, Bahtera aktif sekali mengadakan pertemuan, jadi setiap kali ada pertemuan, gue usahakan untuk datang dan bertatap muka dengan para anggota Bahtera lainnya. Gue bisa dibilang beruntung karena gue bisa langsung berkenalan dan akrab dengan para penerjemah yang menurut gue senior, bukan karena mereka lebih berumur dari gue, tapi karena pengalaman mereka yang jauh lebih banyak dari gue yang baru mulai mencoba masuk. Dari pertemuan-pertemuan informal itulah, gue mendapat ilmu yang tidak dibahas dalam forum diskusi milis. Pertemuan ini juga menjadi unsur penting, karena sebagai penerjemah, membangun jaringan antar penerjemah itu merupakan salah satu faktor yang mutlak harus ada (setidaknya mutlak untuk ukuran gue).

Dari milis ini jugalah gue mendapatkan pekerjaan pertama gue, yaitu menerjemahkan buku motivasi dalam berbisnis. Gue diberi tenggat waktu 3 bulan untuk mengerjakan buku setebal 300 halaman itu. Alhamdulillah, bisa gue kerjakan selama 2 bulan. Sewaktu menyerahkan hasilnya, gue sudah membayangkan akan melihat nama gue terpampang di buku terjemahan itu. Tapi tunggu punya tunggu, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun, hingga saat ini, buku itu tidak pernah terlihat di satu toko buku pun, jadi hilanglah kesempatan untuk melihat nama gue di buku terjemahan. Tapi apakah gue kecewa? Gak juga sih, karena toh gue sudah dibayar, hehehee....

Setelah pekerjaan pertama itu, gue sangat disibukkan dengan pekerjaan kantoran gue, jadi praktis gue tidak melakukan apa-apa untuk profesi yang gue impikan ini, bahkan aktif di milis pun tidak. Hingga sampailah gue di awal 2010, ketika gue sudah mulai jenuh dengan pekerjaan dan keinginan untuk mewujudkan impian gue ini timbul kembali. Gue harus sudah mulai memikirkan langkah yang harus gue ambil dari sekarang, karena target gue adalah secepatnya keluar dari pekerjaan kantoran.

Dari teman-teman di Bahtera, gue mendapat info kalau untuk memasarkan diri terutama ke pasar luar negeri, gue harus "menjual diri" di portal penerjemah, salah duanya adalah Proz dan Translators Cafe .Gue ikuti saran mereka, tapi gue masih menjadi anggota yang tidak berbayar karena gue khawatir, kalo gue udah bayar keanggotaan, ternyata gue gak dapet klien dari sana. Gue bergabung di Proz dan Translator Cafe sambil lihat-lihat profil penerjemah lainnya juga informasi tentang agensi. Gue juga bertanya sama teman-teman penerjemah yang sudah lama bergabung di Proz mengenai seberapa besar kemungkinan mendapat pekerjaan kalau jadi anggota berbayar. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, gue pun memutuskan untuk jadi anggota berbayar. Dan Alhamdulillah, cukup banyak pekerjaan yang gue dapat dari Proz, bahkan ada beberapa yang menjadi klien tetap :)

Banyak keuntungan yang gue dapat dengan menjadi anggota berbayar. Keuntungan yang utama, gue bisa mengajukan penawaran lebih dulu dan gue bisa melihat direktori agensi. Jadi, tanpa berlama-lama, gue langsung kirim CV ke agensi-agensi yang gue lihat mempunyai bahasa Indonesia sebagai layanan mereka. Entah berapa CV yang sudah gue kirim, sampai sekarang pun gue juga masih suka ngirim CV. Ada yang langsung kasih jawaban, minta gue mengerjakan tes, minta data ina inu, setelah keterima ternyata gak ada proyek dari mereka ampe sekarang. Ada juga yang gue gagal di tesnya, ada yang cuma ngejawab pake auto-office reply dan bilang makasih sudah kirim CV. Tapi ada juga yang gak kasih jawaban sama sekali. Itu hal yang sudah sangat biasa gue alami. Pesan gue sih satu, namanya pelamar kerja, mau bidangnya apa pasti sama. Jadi, boleh saja berharap, tapi jangan terlalu besar harapannya, jadi pas ngalamin ditolak atau gak dapat jawaban sama sekali, jadinya gak misuh-misuh, hihihiiiii.... Oh ya, selama 3 tahun gue jadi anggota Proz, sudah cukup banyak pekerjaan yang gue dapat, dan ada beberapa klien yang sampai sekarang jadi klien tetap gue. Jadi, Alhamdu....lilah *ala ustadz Maulana*


Pake nama asli :)
Selain memasarkan diri ke luar negeri, gue juga memasarkan diri di dalam negeri. Waktu awal-awal, gue kan pengen banget jadi penerjemah buku. Kepengen banget rasanya ngeliat nama sendiri terpampang di salah satu buku yang dijual di toko buku ternama (mungkin ini obsesi karena buku pertama gak naik cetak). Jadilah gue berkeliaran di Gramedia, catat semua alamat surel dan alamat surat penerbit yang tertera di buku keluaran mereka lalu mengirim CV ke mereka. Selain ke penerbit, gue juga ngirim CV ke production house, film company, pembuat DVD, konsultan, TV juga majalah. Dari mana gue dapet ide untuk ngirim ke tempat-tempat itu? Ya dari pemikiran gue sendiri aja. Gue cuma mikir gini, kira-kira bidang atau industri apa sih yang memerlukan jasa terjemahan. Ya tempat-tempat itulah yang muncul di kepala gue. Waktu kirim CV melalui pos, cukup banyak CV yang mental dan balik ke rumah karena alamatnya tidak dikenal. Hahahaa, mungkin itu alamat abal-abal atau mereka sudah pindah ke tempat yang lebih baik atau mungkin perusahaan/agensinya sudah gulung tikar. Dari sekian puluh CV yang gue kirim di pasar domestik, ada 1 penerbit yang nelpon dan mau make jasa gue. Bukunya menarik, mengenai sejarah rempah, tapi selesai menerjemahkan buku itu, selesai pula keinginan gue menerjemahkan buku. Kenapa? Karena menerjemahkan buku benar-benar menguras waktu dan tenaga. Selain itu, dibandingkan dengan dokumen, tarifnya kecil. Jadi, walau buku itu naik cetak dan akhirnya gue bisa lihat nama gue terpampang di sana, tapi buku itu juga menjadi buku terakhir yang gue terjemahkan. Hahahaa, kapok bo!

Dari rekan-rekan penerjemah pulalah gue tahu, bahwa sebagai seorang penerjemah, apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, keberadaan CAT Tool sangat diperlukan. Pilihan gue jatuh ke Trados karena dari berbagai perbincangan dengan mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia ini, Trados banyak sekali digunakan oleh agensi. Untungnya pada saat itu ada penawaran membeli Trados secara berkelompok, sehingga harga Trados yang cukup menguras tabungan itu bisa agak lebih ringan (walo tetap aja mahal). Tapi, jangan ditanya seberapa besar fungsi CAT Tools ini buat pekerjaan gue. Pasti ada yang nanya, emangnya gak bisa dengan MS Office aja? Bisa aja, tapi bandingan kasarnya gini deh. Kalau pake MS Office, kapasitas gue menerjemahkan mungkin hanya maksimal 3.000 kata per hari, tapi dengan CAT Tools, kapasitas gue bisa dua kali lipat. Benar-benar memudahkan hidup gue banget!


Sebagian kamus andalan :)
Lalu, apakah dengan begitu, gue bisa dikatakan penerjemah andal? Tentunya tidak. Hingga saat ini, gue masih terus belajar untuk menjadi penerjemah. Gue bersyukur bahwa gue mengenal banyak orang yang membantu gue untuk meningkatkan dan mengembangkan diri sebagai penerjemah. Ada banyak hal yang gue petik dari perbincangan santai dengan para penerjemah senior bin andal. Tapi tiga hal inilah yang menurut gue paling penting. Pertama, seorang penerjemah itu harus suka membaca dan tahu perkembangan baik skala lokal, regional, nasional maupun dunia. Lebih baik lagi kalo buku bacaannya tentang seluk beluk penerjemahan, jadi bisa memperkaya dan mengembangkan diri sebagai penerjemah. Kedua, seorang penerjemah itu tidak boleh malas. Dalam artian begini, teknologi kan sudah canggih banget, jadi kalau ada kata yang seyogyanya memusingkan, bisa cari di Internet. Kalau emang udah mentok, ya bertanyalah. Kalau malas bertanya, akibatnya, hasil terjemahan akan jelek/tidak sesuai. Tapi bukan berarti jadi keseringan nanya, karena itu judulnya dikasih hati minta jantung. Ketiga, punya kamus! Memang sekarang banyak sekali kamus daring (dalam jaringan alias online) bertebaran di Internet, tapi kita kan gak bisa selamanya mengandalkan Internet, apalagi dengan Indonesia yang listriknya byar-pet. Bayangkan, dirimu lagi ada pekerjaan, terus kamus andalannya adalah kamus daring, tiba-tiba mati listrik. Apa mau nunggu sampe listriknya nyala dulu baru kerja supaya bisa dapat padanan katanya? Kalo gue sih jelas gak mau. Maka dari itu, tumpukan kamus gue cukup banyak. Ada yang saking tebelnya bisa dijadiin ganjelan pintu!


Selain hal-hal di atas, ada satu hal pokok yang harus dimiliki, restu Tuhan. Gue akui, gue bukan orang yang taat beragama, tapi gue yakin banget, kalau Tuhan itu sudah mengatur semuanya. Jadi, walau elo ngoyo banget pengen jadi penerjemah tapi itu bukan jalan elo, ya terimalah. Bukannya gak mau kasih semangat, tapi gue mengajarkan supaya bisa menerima kenyataan hidup. Gue sih seneng banget kalo ada temen-temen gue yang mau menjadi penerjemah karena sudah bukan masanya lagi diperbudak sama kantor dan jalanan yang makin menggila kemacetannya, tapi ya cukup pintar-pintarlah membaca pertanda dari Tuhan. Kalau memang sudah jalannya, semuanya akan berjalan lancar kok.

Semangat!

*kembali berkutat dengan dokumen*







Share/Bookmark

Thursday, May 9

..dunia khayal..

Kau datang
Menjemputku
Membawaku pergi

Di negeri khayal
Istana beruntai mega
Nyata tapi maya

Kita berdua
Tua bersama
Tanpa aral

Lalu aku terjaga
Tersadar
Menyisakan tangis


Share/Bookmark