Friday, May 21

..berkunjung ke pulau laskar pelangi..

Setelah tahun ke-4, akhirnya kantor ini bisa juga outing keluar pulau Jawa. Mengingat betapa bosannya dengan hiruk pikuk Bali, akhirnya diputuskan untuk pergi ke pulau para laskar pelangi berasal, Belitong.

Jumat (7/5), sudah standby di airport dari jam 5:30 karena pesawat harus take off jam 6:20. Ternyata oh ternyata, pesawat Sriwijaya ini ditunda sampai 7:45.

Anyway, jam 7:45 pun tiba, kita berangkat dan seperti yang sudah diperkirakan, kehebohan terjadi sejak dari pesawat, mengingat kita semua duduk berdekatan.

Mulai dari pak bos yang salting duduk di sebelah PA baru, sampai suasana ramai ketika cowok2x ini membeli kacamata.

Sampai di Belitong, langsung disapa oleh teriknya matahari (sementara saat itu baru jam 9), dan setelah semua tas keluar dibawa masing-masing pemiliknya, kita menuju ke hotel yang ada di tengah kota.

Sesampai di hotel, ternyata dari 17 kamar yang dipesan, hanya 2 kamar yang baru siap, sementara kita sudah harus memulai berkegiatan. Jadilah semua tas dikumpulkan dalam 1 kamar, trus membawa perbekalan untuk shalat jumat dan pergi ke pantai. Setelah semua beres, kita langsung pergi dari hotel dan menuju tempat makan mie belitong. Mie belitong ini rasanya kayak pempek, karena pake cuka. Walo porsinya dikit, tapi cukup mengganjal perut lah.

 

Habis makan, langsung menuju mesjid karena para pria ini kan harus menunaikan shalat jumat. Selama perjalanan menuju mesjid, hujan turun dengan derasnya. Setelah ngedrop mereka, yang perempuan and non-muslim melipir ke suatu warung untuk bersantai sejenak. Lagi asyik-asyiknya menikmati suasana pantai, tiba-tiba ada petir yang sangat kuenceeeeeenggg menyambar batu sampai menimbulkan asap. Kalau sempat memperhatikan, banyak sekali pohon kelapa gundul di Belitung, dan ini akibat dari sambaran petir yang sangat kencang.

Sekitar jam 1 siang, kita kembali ke mesjid, menjemput para pria untuk langsung menuju makan siang. Beruntung setelah makan siang, langit cerah kembali. Kita lalu menuju pantai tempat bermula kayak, foto-foto bentar dan setelah menurunkan 8 orang yang siap kayak ke Tanjung Tinggi, kita pergi meninggalkan pantai.


Sampai di Tanjung Tinggi, tanpa membuang-buang waktu lagi, gue langsung ngeluarin kamera, jepret sana-sini, naek bebatuan hingga sampai ke tempat yang cukup tinggi dan sejauh gue memandang, gue hanya bisa terdiam kagum, takjub sekali dengan pemandangan yang ada di depan mata gue.

Hampir 3 jam kita bermain-main di pantai Tanjung Tinggi karena di tempat ini kita akan melihat sunset. Well, berhubung tadi siang hujan deras, alhasil momen sunset tidak terlalu bagus didapatkan. Tapi itu tidak mengurangi kenikmatan gue berada di Tanjung Tinggi. Sekitar jam 6, kita kembali menuju hotel, dan bersiap-siap untuk makan malam.

Berhubung besok ada kegiatan mulai pagi hari, jadi habis makan malam, langsung kembali ke hotel dan bermain kartu untuk beberapa saat.

Sabtu, 8 Mei. Kegiatan dimulai dari jam 7 pagi. Habis sarapan, langsung bersiap menuju pantai untuk island hopping. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Pasir, dimana kita ada game mencari bintang laut. Setelah itu, pulau Burung, melanjutkan permainan dengan lomba bakiak, voli duduk dan futsal selain makan siang dan minum kelapa muda. Sekitar jam 1, kita bergerak menuju pulau Lengkuas, tempat terletaknya simbol Belitong, yaitu mercu suar dengan ketinggian setara 18 lantai gedung bertingkat. 


Berhubung gue tidak snorkling, jadi gue puaskan diri berfoto-foto dan menikmati keindahan pulau ini saja. Satu hal yang tidak bisa dicerna pikiran gue, bagaimana caranya bisa begitu banyak batu-batu granit raksasa bertebaran dan terlihat seperti ditumpuk begitu saja oleh sang Pencipta.. It's just beyond me

Hampir 2 jam di Pulau Lengkuas tapi sepertinya masih belum puas, namun apa daya, kita harus pulang karena langit sudah hampir gelap walaupun baru jam 4 sore.

Sampai di hotel sekitar jam 5, ada beberapa anak yang lanjut berenang, tapi gue langsung mandi karena badan sudah lengkeeeeeettttt buangettt !!

Jam 7, kita siap-siap untuk pergi makan malam. Kali ini, makan malamnya di tepi pantai. Habis makan malam, ada acara door prize dan juga limbo dance. Sekitar jam 11, kita kembali ke hotel. But instead of going to bed, gue and beberapa orang melanjutkan permainan kartu UNO. Sekitar jam 2, gue cabut duluan karena sudah mengantuk. Lagipula, it's getting creepy. Well, the hotel is new, tapi sejarah lokasinya itu yang membuat hotel ini jadi spooky. Hiiiii...

Minggu, 9 Mei, hari terakhir di Belitong. Berhubung tinggal menunggu waktu pulang, jadi hari ini dimanfaatkan hanya untuk membeli oleh2x, sementara ada beberapa yang nasrani ibadah ke gereja.

Berhubung pesawat Sriwijaya delay (lagi !!), jadi kita late check out jam 1, trus makan siang di pinggir pantai. Untuk membunuh waktu sebelum ke airport, banyak yang foto2x di pinggir pantai, tapi berhubung gue udah males karena panas, gue maen UNO ajah, heheheee...

Akhirnya, jam 4 sampai juga di airport and take off dari Belitong jam 5 sore untuk kembali menuju Jakarta.

This is a nice island, and for me who ain't a beach person, I love this place so much... It's worth a visit and who knows, someday I'll be back again to this island but this time will travel to the other side.


 







Share/Bookmark

Wednesday, April 28

..kenangan tentang parahyangan..


Mengingat tahun 2009 merugi hingga 36M, PT. KAI memutuskan untuk memberhentikan jalur KA Parahyangan jurusan Jakarta – Bandung – Jakarta pada tanggal 27 April 2010 yang sudah beroperasi selama 39 tahun.

Simpati gue berikan kepada para masinis yang sudah bekerja menjalankan KA ini lebih dari 30 tahun. Bahkan menurut tweet yang gue baca di twitter, ada masinis yang menangis di stasiun Gambir hari Senin kemarin. Hiks…


KA Parahyangan, mau tidak mau membawa gue kembali ke masa kuliah di Bandung. KA ini merupakan transportasi andalan gue dan teman-teman satu kampus yang tidak memiliki mobil selama di Bandung dan juga enggan menggunakan travel car karena waktu yang ditempuh notabene lebih lama. Oh ya, jaman dahulu belum ada travel car seperti sekarang, adanya hanya 4848 dan armadanya sudah tua banget, jadi bisa terbayangkan betapa lambat jalannya mobil itu.


Banyak sekali kenangan yang mulai dari yang bersifat ketololan dan mengundang tawa, sampai ada juga yang menjengkelkan. Kalau mau ditulis satu per satu disini jelas tidak mungkin, jadi gue akan tulis sedikit dari beberapa yang gak akan bisa terlupakan.


1. Gue and my inner circle friends naek kelas bisnis tujuan Jakarta karena kita mau nonton JakJazz. Kita duduk di bagian tengah gerbong, kursi di balik supaya kita bisa duduk berhadapan dan bertukar cerita dengan mudah. Suatu saat, KA berhenti di suatu stasiun. Pasti tahu kan, kalau KA berhenti, suara orang-orang pasti akan terdengar lebih jelas. Maka dari itu, suara kita pun dikecilkan volumenya supaya tidak mengganggu orang lain. Namun ada beberapa perempuan yang lebih berumur dari kita yang duduk di dekat pintu gerbong yang tidak bisa memelankan suaranya sama sekali. Jadi, dari tempat duduk kita yang berjarak cukup jauh, suara mereka terdengar sangat nyaring dan memang cukup mengganggu. Bermula dari ide iseng yang terlontar untuk mendatangi mereka supaya mengecilkan volume suaranya, tak tahunya Chika benar-benar berdiri, mendatangi mereka dan dengan suaranya yang tegas, ia meminta mereka supaya memelankan suaranya karena sudah mengganggu ketenangan orang lain. You know what the rest of us did ? Kita menurunkan kepala, mengecilkan suara dan definitely, we were also shock of what she did. Nobody knew it was coming. Pfiuuuuuufh, untung aja dia gak disantap balik and kembali ke tempat duduk dengan utuh.


2. Jumat sore selepas kuliah, gue and teman-teman buru-buru ke stasiun untuk mengejar KA yang pergi jam 6 sore. Dari sekian banyak teman, hanya Sania yang duduk di kelas eksekutif. Tak lama setelah KA berjalan, salah satu teman kami, Beka pun berjalan-jalan ke kelas eksekutif. Niat awalnya untuk menyambangi Sania, tapi ternyata ada beberapa kursi kosong disana dan dia pun memutuskan untuk duduk sebentar sekadar mendinginkan badan. Mungkin karena keenakan, dia jadi ketiduran dan dibangunkan oleh petugas tiket KA. Dia lalu dikasih pilihan, mau membayar biaya tambahan atau kembali ke kelas bisnisnya. Dan hasilnya ? Dia kembali ke kelas bisnis ! Dengan muka merah padam karena malu, dia bercerita tentang kejadiannya. We all had a big laugh that nite :)


3. Gue, Iting, Beruang and gue lupa siapa 1 lagi personilnya, duduk berhadapan dari Jakarta menuju Bandung. Lagi asik-asiknya cerita di tengah perjalanan, mendadak dari jalur yang berlawanan, ada satu KA melintas kencang sekali. Tanpa diduga sama sekali, Beruang yang badannya besar dan duduknya tepat di sebelah jendela, melompat ke lorong gerbong dan kita semua hanya bisa bengong ngeliatin dia. Ternyata, dia pikir KA tadi mau menabrak KA kita. Huahahahahaaaaaa, imajinasinya terlalu tinggi :)


Yah, itulah sekelumit cerita dari atas KA Parahyangan. Walaupun sekarang sudah tidak beroperasi dan menjadi bagian sejarah PT KAI, namun kenangan-kenangan gue ataupun teman-teman lainnya pasti akan terus hidup.


Photo from tiket.com




Share/Bookmark

Thursday, April 22

..selamat ulang tahun, ibu..


Tidak ada pesta hingar bingar, hanya sepotong tiramisu cake dan tiupan pada korek api sebagai penanda ibu yang tengah berulang tahun ke-70 di pagi ini, sembari gue menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Ibu hanya bisa diam terpaku lalu meneteskan air mata, dan gue pun memeluknya erat.

Ibu, sosok dimana dulu waktu SMP & SMA sangat tidak gue sukai karena menurut gue waktu itu, dia sangat cerewet, penuh penghematan dan terlalu banyak aturan yang susah gue terima. Ketika gue kuliah di Bandung, gue benar-benar merasa merdeka, karena tidak ada lagi sosok ibu yang ingin tahu segalanya. Ketika gue lulus kuliah dan kembali ke Jakarta, gue masih belum bisa mendekatkan diri dengan ibu, tapi gue tertolong dengan kehadiran bapak. Terutama kalau sudah beradu mulut, bapaklah yang menjadi penengah kami berdua.


Ketika bapak harus meninggalkan kami untuk selama-lamanya dan gue harus hidup berdua sama ibu, mungkin itulah saat terberat bagi gue. Gue benar-benar harus membiasakan diri untuk hidup berdua dengannya tanpa ada bapak lagi yang jadi penengah. Sangat banyak adaptasi yang harus gue lakukan (dan mungkin ibu juga lakukan) hingga akhirnya gue mencapai titik dimana gue sudah merasa sangat sesak dan gue memutuskan untuk keluar rumah / kos (dengan baik-baik tapinya) supaya keadaan kembali tenang. Tapi itu bukan berarti gue memutuskan tali silaturahmi dengan ibu, karena sewaktu gue kos, gue masih pergi umroh bersamanya.


Dengan adanya keterpisahan jarak, gue memiliki banyak waktu untuk berusaha menyelami karakter dan sifat ibu, cara pandang beliau, keinginan yang dia miliki atas gue, segala ajarannya yang telah diberikan ke gue. Butuh waktu yang tidak sebentar, namun sedikit demi sedikit, gue mulai bisa memahami jalan pikirannya. Gue mulai bisa bertoleransi, meredam amarah dan mencoba sedikit bersabar ketika harus berhadapan dengannya. Memang semuanya membutuhkan proses yang cukup panjang, tapi gue bersyukur bahwa masa-masa "berat" itu telah terlewati dan sekarang, keinginan gue hanya satu, membahagiakan ibu selagi beliau masih ada.


Dulu sekali gue pernah bilang sama dia, kalau umurnya hanya sampai 72 tahun. Entah dengan alasan apa, gue bisa menyebut angka itu dan hingga saat ini, angka itulah yang gue percayai. Memang umur semuanya di tangan Tuhan, tapi kalau memang hanya sampai 72 tahun, berarti masih ada 2 tahun tersisa yang bisa gue lewatkan bersamanya. Maka dari itu, apapun yang gue lakukan selama ini, semuanya hanya untuk ibu. Sehingga bila waktunya tiba, gue sudah puas telah membahagiakan beliau.


Ibu, selamat ulang tahun ya... Semoga ibu selalu sehat, bahagia dan bangga atas aku. Maafin kalo aku sudah membuat ibu jengkel, sakit hati dan kecewa. Semoga ibu tahu, bahwa aku bangga punya seorang ibu kayak ibu. Mungkin ada kalanya ibu tidak menjadi ibu yang terbaik sedunia, tapi semua itu tidak ada artinya dibandingkan apa yang telah ibu lakukan selama ini buat aku.


Aku sayang sekali sama ibu...*peluk cium penuh haru*





Share/Bookmark