Monday, March 6

...kisah sebuah nama...

Nama gue Yulia. Itu nama pemberian orang tua. Alasan mereka kasih nama itu sangat sederhana. Karena gue lahir tanggal 31 Juli, jadi Yulia adalah singkatan dari Yuli Akhir. Gue pernah bertanya kenapa nggak Julia, secara nama bulannya kan Juli. Tapi mereka tidak pernah menjawab secara lugas alasannya. Sementara nama belakang gue, Absari, yang diberikan oleh almarhum eyang buyut kakung gue. Gue sendiri nggak pernah tahu apa arti nama belakang gue itu. Gue pernah sih bertanya ke ibu, tapi beliau pun hanya bilang, itu pemberian dari eyang buyut. Mungkin karena ibu didikan zaman dulu ya, jadi apapun yang diberikan oleh orang tua, terima jadi saja karena menurutnya, apa yang dilakukan pasti mengarah ke kebaikan. Dan nama belakang kakak-kakak gue pun diberikan oleh eyang buyut kakung gue ini. Kalau Baso, itu karena nama belakang bapak gue itu Baso, lengkapnya Abdullah Baso.

Seperti kebanyakan orang, gue pun punya nama panggilan. Dan dari nama panggilan itu, bisa ketahuan periode mereka mengenal gue atau atas sebab apa mereka memanggil gue dengan nama tersebut. Kalau ada yang manggil gue dengan "Yulia", itu berarti teman SD, rekan kerja di kantor dan sebagian teman SMA. Sementara sebagian teman SMA lainnya yang jadi teman dekat hingga saat ini memanggil gue dengan "Bajul" atau "Juli". Ada apa dengan teman SMP? Apakah gue tidak duduk di bangku SMP? Bukan begitu ceritanya. Tapi berhubung gue anak baru, jadi gue nggak gitu banyak bergaul selain dengan teman-teman sekelas. Untungnya, teman-teman SMP gue banyak yang melanjutkan ke SMA yang sama. Jadi ya, bisa dibilang teman SMA gue ya temen SMP itu. Untuk di kalangan kerabat/saudara dan tetangga, mereka memanggil gue dengan "Lia", baik itu dengan predikat "mbak" atau "dek". Tapi untuk orang rumah, gue ada panggilan sendiri dan cuma sedikit sekali teman dekat gue yang tahu nama panggilan gue itu.

Lalu sejak kapan gue dipanggil dengan nama Ijul? Begini ceritanya. Waktu dulu gue baru pindah ke Bandung untuk kuliah di STP (d/h Enhaii) dan tinggal di asrama perempuan, gue tinggal satu lantai dengan teman bernama Ina. Dialah yang pertama kali memanggil gue dengan nama Ijul dan menurut gue, nama itu sesuai dengan karakter gue. Sejak sore itu, gue selalu memperkenalkan diri dengan nama "Ijul". Gue hanya memperkenalkan diri dengan nama "Yulia" ketika gue bepergian keluar negeri karena sudah dapat dipastikan, mereka kesulitan untuk melafalkan nama "Ijul".

Seperti kata Shakespeare, "What's in a name?", maka gue sendiri nggak pernah mempermasalahkan mau dipanggil apa. Bahkan dengan "Eh" pun gue akan tetap membalas (kecuali catcalling di pinggir jalan ya!).
Share/Bookmark

No comments:

Post a Comment